Globalpewartasakti.com | NASIONAL (GPS) – Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap stabil meski harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi. Kepastian tersebut disampaikan usai Komisi XII DPR memperoleh keterangan resmi dari pemerintah terkait dinamika energi global yang berpotensi memengaruhi sektor energi nasional.
Sebagai informasi, harga minyak mentah dunia saat ini berada pada kisaran 87 dolar AS per barel untuk Brent dan sekitar 83 dolar AS per barel untuk West Texas Intermediate (WTI). Meski terjadi pergerakan harga di pasar global, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan subsidi energi tetap dijaga agar tidak membebani masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“BBM subsidi dipastikan tidak naik. Pemerintah telah melakukan berbagai perhitungan dan anggaran yang ada masih mencukupi. Jika diperlukan, penyesuaian dapat dilakukan melalui refocusing atau realokasi anggaran tanpa harus menaikkan harga BBM subsidi,” ujar Sugeng saat memimpin agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR ke Integrated Terminal Pertamina Palembang di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (11/3/2026).
Politisi F-Nasdem ini menjelaskan, jenis BBM yang masuk dalam kategori subsidi antara lain solar subsidi, minyak tanah di wilayah tertentu, serta LPG tabung 3 kilogram. Sementara itu, ungkapnya, BBM dan LPG non-subsidi tetap mengikuti mekanisme harga pasar yang dipengaruhi oleh kondisi global.
“Kami menilai stabilitas harga BBM subsidi sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Kenaikan harga BBM, terutama yang bersubsidi, dinilai berpotensi memicu inflasi dan berdampak pada meningkatnya angka kemiskinan baru,” jelasnya.
Di sisi lain, kata Legislator Dapil Jateng VIII ini, dinamika geopolitik global turut memengaruhi stabilitas energi dunia. Sebagai informasi, ketegangan di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena wilayah tersebut merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia.
Pasalnya, sekitar 20 persen lalu lintas migas global melewati Selat Hormuz, sehingga setiap konflik di kawasan tersebut dapat berdampak pada pasokan energi internasional. “Saya menilai Indonesia dinilai memiliki posisi yang relatif aman karena tidak bergantung pada satu sumber impor minyak. Pasokan minyak mentah diperoleh dari berbagai negara seperti Aljazair, Angola, hingga Amerika Serikat, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan melalui diversifikasi sumber impor,” terangnya.
Selain itu, lanjut Sugeng, kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor Indonesia juga memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan negara. Komoditas seperti batu bara, nikel, tembaga, crude palm oil (CPO), hingga timah mengalami peningkatan harga di pasar global. Bahkan harga timah disebut mencapai sekitar 60 ribu dolar AS per ton, yang menjadi salah satu level tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi tersebut diharapkan mampu membantu menjaga keseimbangan fiskal negara di tengah tekanan harga energi global.
“Ketika harga energi naik, di sisi lain harga komoditas ekspor kita juga meningkat. Jika semuanya dikonsolidasikan, mudah-mudahan dampaknya terhadap APBN masih bisa dikendalikan,” tandas Sugeng.(*)
Sumber : PARLEMENTARIA







