Baju Lebaran Tak Terpakai di Hari Raya, Duka Abizar dan Luka Layanan Kesehatan di Kota Bandar Lampung

- Editorial Team

Selasa, 17 Maret 2026 - 01:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Baju Lebaran Tak Terpakai di Hari Raya, Duka Abizar dan Luka Layanan Kesehatan di Kota Bandar Lampung.

Globalpewartasakti.com |BANDAR LAMPUNG(GPS).
Ramadhan tahun ini seharusnya menjadi momen penuh tawa bagi keluarga Muslim. Di tengah hiruk-pikuk warga Lampung menyiapkan baju baru dan hidangan ketupat untuk menyambut Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, sebuah rumah di Bandar Lampung justru diselimuti sunyi yang menyayat hati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Abizar Fathan Athallah, bocah periang berusia 6 tahun, telah pergi selamanya pada Selasa malam, 24 Februari 2026. Ia mengembuskan napas terakhir di RSIA Puri Betik Hati, meninggalkan luka mendalam bagi orang tuanya dan tanda tanya besar bagi publik.

Hati yang baik, tulus, atau niat yang mulia. Istilah ini sering dikaitkan dengan perilaku terpuji, keramahtamahan dan pelayanan tulus. Tapi mengapa, nyawa seorang anak harus melayang di tengah dugaan kelalaian medis.

Menurut keterangan Muslim, Abizar yang mengeluhkan sakit perut dan muntah-muntah diduga terlambat mendapatkan tindakan karena kendala koordinasi dokter spesialis di rumah sakit tersebut. Sehingga, tragedi ini menjadi sorotan tajam mengenai kesiapsiagaan fasilitas kesehatan di Lampung dalam menangani pasien kritis

Baca juga:  Gelar Penanaman Perdana, Paguyuban Kelompok Tani Kakao Pesawaran Dorong Peremajaan Komoditas Unggulan Daerah

24 Hari Menuju Lebaran yang Kelabu.

Tepat 24 hari sebelum gema takbir berkumandang, Abizar harus berjuang melawan rasa sakit di perutnya. Harapan keluarga agar sang buah hati segera pulih dan bisa merayakan Lebaran bersama pupus seketika. Dugaan sulitnya menghubungi dokter anestesi dan lambatnya penanganan operasi menjadi noktah hitam dalam catatan pelayanan kesehatan di Bumi Ruwa Jurai.

Bagi Muslim, sang ayah, Idul Fitri kali ini bukan lagi tentang kemenangan, melainkan tentang ketabahan. Dimana lazim bagi setiap keluarga beragama islam sedang bersiap merayakan hari kemenangan, tapi kini, keluarga muslim hanya bisa menatap baju Lebaran yang tak akan pernah dipakai Abizar. Dengan nada getir dan lirih muslim melaporkan kasus ini ke Dinas Kesehatan Lampung.

Melipat Kenangan.
Malam yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi momen duka yang mendalam saat orang tua dihadapkan pada tumpukan baju baru tersebut.

Sebagai orangtua, pasti sering kali terjadi, menangis tersedu-sedu sambil melipat atau memeluk baju Lebaran anak yang sudah tidak ada pemiliknya.

Menjelang 30 hari, bagi orangtua Abizar, cara terbaik untuk “memakaikan” baju tersebut kepada anaknya adalah dengan mengirimkan doa terbaik agar sang anak bahagia di alam sana.

Baca juga:  Sat Lantas Polres Lampung Barat Lakukan Penyekatan Kendaraan, Imbau Masyarakat Waspadai Jalan Longsor dan Amblas

Lampu Merah Pelayanan Medis.
Kematian Abizar bukan sekadar angka dalam statistik pasien. Kasus ini menjadi alarm keras bagi otoritas kesehatan di Lampung. Investigasi yang kini tengah berjalan di Dinas Kesehatan Provinsi Lampung diharapkan tidak hanya menjadi formalitas birokrasi. Publik menuntut transparansi: Apakah standar operasional prosedur (SOP) dijalankan? Mengapa rujukan terkesan dipersulit saat kondisi pasien kritis?.

Menjelang Idul Fitri, saat banyak tenaga medis mengambil cuti, keamanan dan kesiapsiagaan rumah sakit menjadi sorotan utama. Kasus Abizar adalah pengingat pahit bahwa nyawa tidak bisa menunggu birokrasi yang berbelit atau komunikasi dokter yang tersendat.

Keadilan untuk Abizar.
Kini, saat warga lain bersuka cita menghitung hari menuju 20 Maret, keluarga Abizar masih terus menghitung hari mencari keadilan.

Lebaran tahun ini di Bandar Lampung menyisakan satu kursi kosong di meja makan keluarga Muslim, sebuah kursi yang menjadi saksi bisu atas hilangnya nyawa seorang anak yang merindukan hari raya, namun justru berpulang karena sistem yang diduga gagal melindunginya.

Baca juga:  Spesialis Bongkar Alfamart Di Ungkap Polres Pesawaran

Kursi itu tidak benar-benar kosong; ia seolah dipenuhi oleh kenangan—bayangan tawa sang anak atau cara uniknya memegang sendok. Hal ini membuat anggota keluarga lain merasa ada yang “kurang” secara fisik di meja tersebut menjadi kehadiran yang menyakitkan.

Bagi orang tua Abizar, melihat kursi itu adalah pengingat harian akan masa depan yang tidak terwujud atau ketidakhadiran yang dipaksakan oleh jarak, konflik, atau kehilangan dan menjadi simbol harapan yang terputus.

Meja makan biasanya menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan. Satu kursi yang tidak berpenghuni merusak simetri kebahagiaan tersebut, mengubah rutinitas makan menjadi momen refleksi yang melankolis dan sangat kontras secara visual.

Keheningan di kursi itu memekakkan telinga kita. Di tengah takbir bergema, bedug bersuara lantang serta diiringi denting sendok dan riuh percakapan, kursi itu tetap mematung, menciptakan ruang hampa yang tak bisa diisi oleh siapa pun.

Semoga segera didapatkan informasi mengenai perkembangan investigasi kasus ini dan membawa titik terang, agar tak ada lagi “Abizar-Abizar” lain yang harus kehilangan masa depannya di tangan layanan kesehatan yang abai.(*)

Penulis: A.Hanif Zikri

Sekretaris DPD PWRI Provinsi Lampung

Berita Terkait

Polres Metro Ungkap Dugaan Kekerasan Seksual, Seorang Pria Diamankan
Raperda Perubahan APBD 2026 Disetujui, Bupati Ela Dorong Percepatan Program dan Pelayanan Publik
Gugatan Dinyatakan Tidak Dapat Diterima di PN Kota Agung, Anipudin dan Sriati Sampaikan Terima Kasih kepada LBH Ansor Pringsewu dan Tim Kuasa Hukum.
MAHASISWA UIN RADEN INTAN LAMPUNG RAIH JUARA DUTA GENRE PROVINSI LAMPUNG 2026.
Pria di Pringsewu Diduga Gelapkan Rp350 Juta Modus Join Modal Proyek Irigasi, Ditangkap Polisi Saat Kabur ke Bogor
Wabup Azwar Hadi Buka Seleksi MTQ ke-53, Siapkan Generasi Qur’ani Terbaik Lampung Timur
Hadir di Layar, Absen di Kursi: Polemik Zoom di Paripurna DPRD Lampung.
Diduga Edarkan Sabu, Seorang Pria Asal Km 5 Blambangan Umpu Diamankan Polres Way Kanan

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 12:53 WIB

Dua Kali Mangkir, Pria di Pringsewu Di Jemput Paksa Polisi Terkait Dugaan Penggelapan Truk

Senin, 7 September 2026 - 11:57 WIB

Diduga Miliki Narkoba, Dua Pria Diamankan URC Polsek Labuhan Maringgai

Kamis, 3 September 2026 - 12:51 WIB

Ops Sikat Krakatau, Polresta Bandar Lampung Ungkap 33 Kasus dan Tangkap 34 Tersangka

Kamis, 3 September 2026 - 12:35 WIB

Bupati Pringsewu Serahkan Bantuan Beras Tahap II di Bumiarum

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:06 WIB

Polda Lampung Bongkar Home Industry Pil Ekstasi di Natar, Lima Orang Diamankan

Jumat, 28 Agustus 2026 - 12:21 WIB

Bobol Warung Warga Lewat Atap, Pelaku Diciduk Tim Gabungan Tekab 308 Polres Lamteng dan Polsek Seputih Banyak

Jumat, 28 Agustus 2026 - 03:10 WIB

GRIB Jaya Pringsewu Dorong DPRD Periksa Anggaran Dinas Kesehatan, Eddi Rambo: Jangan Sampai Uang Rakyat Tak Jelas!

Kamis, 27 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Polisi Ungkap Pembuang Jasad Bayi di Sungai Bandar Lampung, Ibu Kandung Ditangkap

Berita Terbaru

Hukum dan Kriminal

Polres Metro Ungkap Dugaan Kekerasan Seksual, Seorang Pria Diamankan

Sabtu, 19 Sep 2026 - 12:02 WIB