Perbedaan Pemimpin Zaman Dulu Dengan Pemimpin Masa Kini

- Editorial Team

Selasa, 1 April 2025 - 23:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perbedaan Pemimpin Zaman Dulu Dengan Pemimpin Masa Kini

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Globalpewartasakti.com | Bandar Lampung(GPS).

ADA sebuah anekdot yang saya kira semacam sindiran keras bagi sebagian pemimpin sekarang. Anekdot tersebut yaitu berbunyi: pemimpin masa lalu itu dipenjara dulu, baru jadi pemimpin. Sementara sekarang, menjadi pemimpin dulu, baru dipenjara. Artinya apa?

Dulu, para tokoh bangsa memang berjuang mati-matian, berkorban harta, raga, dan bahkan jiwanya untuk kemerdekaan bangsanya sehingga penjajah menjebloskannya ke sel tahanan. Masa mudanya dihabiskan dalam perjuangan dan pengabdian penuh untuk bangsa yang dicintainya.

Beberapa tokoh bangsa yang sempat mencicipi jeruji besi di antaranya Soekarno, Moh Hatta, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, dan masih banyak yang lain lagi tentunya.

Semangat juangnya berapi-api untuk meraih kemerdekaan.Kepentingan bangsa menjadi orientasi utama.Ini berbeda jauh dengan sebagian pemimpin saat ini.

Mereka justru memanfaatkan posisi dan kedudukannya untuk mengeruk kekayaan negara.Tak terhitung jumlah koruptor yang menjadi narapidana.

Rasa-rasanya, sangat tidak cocok, oknum-oknum semacam itu dikatakan sebagai pemimpin.Sebab, yang ada dalam hati dan pikirannya seolah hanya untuk mempertebal kantong pribadi.

Segala jurus dan strategi digunakan untuk mengelabui rakyat. Seakan-akan kita semua bodoh dan tak mengamati tingkah laku pejabat publik semacam itu.

Baca juga:  Pers : UKW Bukan Jaminan Moralitas, Bukan Tolak Ukur Mutlak Kualitas

Bukannya melayani dengan sepenuh jiwa, yang ada justru bermain-main dengan kekuasaannya.
Janji-janjinya di masa kampanye sebatas pemanis untuk menipu rakyat.

Ketika sudah duduk di kursi empuk kekuasaan, semua dilupakan. Nasib rakyat diabaikan. Jangan harap mereka bisa menjadi problem solver, yang ada hanya selalu menjadi beban negara, alias problem maker.

Padahal, rakyat membutuhkan perhatian untuk dientaskan beragam persoalannya. Mulai dari persoalan ekonomi, sosial, pendidikan, dan semacamnya.

Pemimpin semacam itu sama sekali tidak menginspirasi. Jabatannya hanya digunakan untuk memenuhi hasrat duniawinya.
Tak peduli halal dan haram, tak peduli melanggar norma hukum dan norma sosial, semuanya dilabrak.

Padahal, saat ini, kita membutuhkan pemimpin yang menginspirasi.
J. Q. Adams, Presiden Amerika Serikat ke-6 (1825-1829) pernah berkata:

“Jika tindakan Anda menginspirasi orang lain untuk bermimpi lebih banyak, belajar lebih banyak, berbuat lebih banyak, dan menjadi lebih banyak, maka Anda adalah seorang pemimpin.”

Saya kira, pemimpin seperti yang dikatakan oleh Adams ini yang kita dambakan kehadirannya.
Pemimpin yang tutur kata dan perangainya menjadi teladan bagi masyarakat.

Baca juga:  Sebagai Agent OF Social Control Sekertaris DPC PWRI Pringsewu, Soroti Realisasi Anggaran OP PPK dan PPS se-Kabupaten

Sebab, pemimpin sejati bukan hanya mereka yang memiliki kecerdasan intelektual, tapi nihil kecerdasan emosional dan spritualnya.
Pintar tapi tidak benar justru akan menjadikan bangsa dan negara ini kian bobrok.

Buktinya, banyak pejabat negara di negeri ini yang gelarnya berderet-deret alias kapasitas inteltualnya cukup mapan. Namun masih terjerat korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Belum lagi yang menjadi mafia hukum yang memperjual-belikan pasal demi kepentingan diri dan golongannya. Terkait hal itu, kita perlu berhati-hati betul dalam memilah dan memilih pemimpin.

Sebab, nasib dan masa depan anak cucu kita, salah satunya ditentukan oleh kebijakan, program, dan regulasi yang ditetapkan oleh pemimpin. Jika pemimpinnya tidak amanah dan semena-mena, maka bersiap-siaplah rakyat hanya dijadikan “sapi perah” yang tak diperhatikan.

Pemimpin seperti itu, hanya bisa tunjuk sana tunjuk sini, ongkang-ongkang kaki, enggan berbaur dengan rakyat kecil, dan maunya hanya dilayani. Padahal, pemimpin sendiri sebetulnya adalah pelayan rakyat.

Kita rindu seorang pemimpin yang mampu mengatasi kerusakan yang terjadi, serta mampu membawa keadilan dan kemakmuran dengan menjunjung tinggi keilmuan.

Dalam konteks realitas pemimpin di Indonesia saat ini, hemat saya, memang sudah sewajarnya menjadikan rakyat tumpuan dari segala perhatiannya.

Baca juga:  Disnaker Pringsewu Diduga Tak Profesional dan Tebang Pilih : UMKM Ditekan, PT Dibiarkan?

Bersedia memberikan pelayanan terbaik untuk kemaslahatan rakyat. Pelayanan yang memang bersumber dari kesadaran dalam hati bahwa tahtanya tersebut adalah amanah yang wajib ditunaikan.

Karena jujur saja, kita tidak membutuhkan pelayanan yang hanya lips service. Manis di mulut tapi tidak ditepati. Pandai bersilat lidah dan beretorika tapi nol bukti.

Kita ingin hadir di tengah-tengah kita seorang pemimpin yang memang tulus mengayomi dan mendharmabaktikan dirinya demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Kita membutuhkan pemimpin yang cerdas, berkarakter, visioner, nasionalis, patriotik, dan totalitas dalam melayani. Pemimpin semacam itu biasanya menjadi panutan di tengah masyarakat, menjadi pelipur lara ketika sedang dilanda kabut duka.

Sebab, spirit optimismenya menyala-nyala dalam jiwanya. Pemimpin tersebut imannya kokoh, ilmunya luas, dan akhlaknya luhur. Kehadirannya dinanti. Ketiadaannya dirindukan.

Akhir kata, besar harapan saya, para pemimpin-pemimpin yang dipilih oleh rakyat pada pemilu tahun 2024 yang lalu, baik Pilpres,Pileg maupun Pilkada merupakan pemimpin yang berjiwa ksatria.

Bukan berjiwa bandit. (**)

Curahan Hati dipenghujung Ramadhan 1446 H: Pinnur Selalau Pemred RadarCyberNusantara.Id. (Red GPS).

Berita Terkait

Borok Anggaran DPRD Lampung Timur Jadi Sorotan, Pengamat Hukum Dorong Penegakan Aturan.
Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Gobang VII Yonif 9 Marinir TNI Angkatan Laut Jemput Pengungsi Di Distrik Aifat Timur Jauh Disertai pemeriksaan Kesehatan.
Musrenbang RKPD 2027 Digelar di GSG Pemda Pesawaran, Gubernur Lampung dan Bupati Nanda Indira Bastian Sampaikan Arah Pembangunan.
GRIB JAYA Pringsewu Gelar Aksi Sosial Bagi Takjil, Ratusan Paket Dibagikan untuk Warga.
PWRI Pesawaran Laporkan Dugaan Penyimpangan Dana BOS SMP Negeri 18 Pesawaran ke Aparat Penegak Hukum.
Pengelolaan Dana BOS 2025 di SMPN 18 Pesawaran Jadi Sorotan, Publik Minta Transparansi.
Di Bulan Ramadhan, DPD PWRI Lampung Soroti Kuantitas dan Kualitas MBG.
DPC PWRI Pesawaran Ucapkan Selamat Hari Pers Nasional 2026.

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:10 WIB

Tim Gabungan Polsek Banjar Agung Ringkus DPO Pelaku Curat “Spesialis Dinamo”

Selasa, 12 Mei 2026 - 12:28 WIB

Curi Sawit di PT GMP, Residivis Curas Diamankan Polsek Seputih Mataram

Senin, 11 Mei 2026 - 14:59 WIB

Borok Anggaran DPRD Lampung Timur Jadi Sorotan, Pengamat Hukum Dorong Penegakan Aturan.

Senin, 11 Mei 2026 - 12:13 WIB

Tertipu Mobil Gadai, Warga Pringsewu Rugi Puluhan Juta, Pelaku Ditangkap di Jambi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:26 WIB

Satresnarkoba Polres Lampung Utara Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Seorang Pemuda Diamankan

Jumat, 8 Mei 2026 - 11:53 WIB

Dipicu Emosi dan Cemburu Buta, Suami di Pringsewu Tega Aniaya Istri Pakai Sajam

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:47 WIB

Ancam Sebar Aib Korban dan Intimidasi dengan Korek Api Mirip Pistol, Pelaku Pemerasan Ditangkap Polisi

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:50 WIB

Terlibat Kasus Narkotika, Dua Pelaku Diamankan Polres Lampung Utara

Berita Terbaru

Berita

Sekum APINDO Lampung Buka Muskab II APINDO Pringsewu. 

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:23 WIB